Pada artikel ini akan di bahas mengenai pengertian beberapa ukuran
pemusatan datayang dilengkapi dengan contoh perhitungan, baik untuk data
tunggal ataupun data yang sudah dikelompokkan dalam tabel distribusi frekuensi.
Selain ukuran statistik di atas, akan dibahas juga mengenai beberapa ukuran
statistik lainnya, seperti Rata-rata Ukur(Geometric Mean), Rata-rata
Harmonik (H) serta beberapa karakteristik penting yang perlu dipahami
untuk ukuran tendensi sentral yang baik serta bagaimana memilih atau
menggunakan nilai tendensi sentral yang tepat.
(1) Mean (arithmetic mean)
Rata-rata hitung atau arithmetic
mean atau sering disebut dengan istilah mean saja
merupakan metode yang paling banyak digunakan untuk menggambarkan ukuran
tendensi sentral. Mean dihitung dengan menjumlahkan semua nilai data pengamatan
kemudian dibagi dengan banyaknya data. Definisi tersebut dapat di nyatakan
dengan persamaan berikut:
Sampel:
Populasi:
Keterangan:
∑ = lambang
penjumlahan semua gugus data pengamatan n = banyaknya sampel data N = banyaknya
data populasi
=
nilai rata-rata sampel μ = nilai rata-rata populasi Meandilambangkan
dengan
(dibaca
"x-bar") jika kumpulan data ini merupakan contoh(sampel)
dari populasi, sedangkan jika semua data berasal dari populasi,
mean dilambangkan dengan μ (huruf kecil Yunani mu).
Sampel statistik
biasanya dilambangkan dengan huruf Inggris,
,
sementara parameter-parameter populasi biasanya dilambangkan dengan huruf
Yunani, misalnya μ
a. Rata-rata hitung (Mean) untuk data
tunggal
Contoh 1:
Hitunglah nilai rata-rata dari nilai
ujian matematika kelas 3 SMU berikut ini: 2; 4; 5; 6; 6; 7; 7; 7; 8; 9
Jawab:
Nilai rata-rata dari data yang sudah
dikelompokkan bisa dihitung dengan menggunakan formula berikut:
Keterangan: ∑
= lambang penjumlahan semua gugus data pengamatan fi =
frekuensi data ke-i n = banyaknya sampel data
=
nilai rata-rata sampel
Contoh 2:
Berapa rata-rata hitung pada tabel frekuensi berikut:
|
xi
|
fi
|
|
70
|
5
|
|
69
|
6
|
|
45
|
3
|
|
80
|
1
|
|
56
|
1
|
Catatan:
Tabel frekuensi pada tabel di atas merupakan tabel frekuensi untuk data
tunggal, bukan tabel frekuensi dari data yang sudah dikelompokkan berdasarkan
selang/kelas tertentu.
Jawab:
|
xi
|
fi
|
fixi
|
|
70
|
5
|
350
|
|
69
|
6
|
414
|
|
45
|
3
|
135
|
|
80
|
1
|
80
|
|
56
|
1
|
56
|
|
Jumlah
|
16
|
1035
|
b. Mean dari data distribusi Frekuensi
atau dari gabungan:
Distribusi Frekuensi: Rata-rata
hitung dari data yang sudah disusun dalam bentuk tabel distribusi frekuensi
dapat ditentukan dengan menggunakan formula yang sama dengan formula untuk
menghitung nilai rata-rata dari data yang sudah dikelompokkan, yaitu: 
Keterangan:
∑ = lambang penjumlahan semua gugus data
pengamatan fi = frekuensi data ke-i
=
nilai rata-rata sampel
Contoh 3:
Tabel berikut ini adalah nilai ujian statistik 80
mahasiswa yang sudah disusun dalam tabel frekuensi. Berbeda dengan contoh 2,
pada contoh ke-3 ini, tabel distribusi frekuensi dibuat dari data yang sudah
dikelompokkan berdasarkan selang/kelas tertentu (banyak kelas = 7 dan panjang
kelas = 10).
|
Kelas ke-
|
Nilai
Ujian
|
fi
|
|
1
|
31 - 40
|
2
|
|
2
|
41 - 50
|
3
|
|
3
|
51 - 60
|
5
|
|
4
|
61 - 70
|
13
|
|
5
|
71 - 80
|
24
|
|
6
|
81 - 90
|
21
|
|
7
|
91 - 100
|
12
|
|
Jumlah
|
80
|
Jawab:
Buat daftar tabel berikut, tentukan nilai pewakilnya (xi) dan hitung fixi.
|
Kelas ke-
|
Nilai
Ujian
|
fi
|
xi
|
fixi
|
|
1
|
31 - 40
|
2
|
35.5
|
71.0
|
|
2
|
41 - 50
|
3
|
45.5
|
136.5
|
|
3
|
51 - 60
|
5
|
55.5
|
277.5
|
|
4
|
61 - 70
|
13
|
65.5
|
851.5
|
|
5
|
71 - 80
|
24
|
75.5
|
1812.0
|
|
6
|
81 - 90
|
21
|
85.5
|
1795.5
|
|
7
|
91 - 100
|
12
|
95.5
|
1146.0
|
|
Jumlah
|
80
|
6090.0
|
Catatan:
Pendekatan perhitungan nilai rata-rata hitung dengan menggunakan distribusi
frekuensi kurang akurat dibandingkan dengan cara perhitungan rata-rata hitung
dengan menggunakan data aktualnya. Pendekatan ini seharusnya hanya digunakan
apabila tidak memungkinkan untuk menghitung nilai rata-rata hitung dari sumber
data aslinya.
Rata-rata gabungan (disebut juga grand mean, pooled mean, atau rata-rata
umum) adalah cara yang tepat untuk menggabungkan rata-rata hitung dari
beberapa sampel.
Contoh 4:
Tiga sub sampel masing-masing berukuran
10, 6, 8 dan rata-ratanya 145, 118, dan 162. Berapa rata-ratanya?
Jawab:
(2) Median
Median dari n pengukuran
atau pengamatan x1, x2 ,..., xn adalah
nilai pengamatan yang terletak di tengah gugus data setelah data tersebut
diurutkan. Apabila banyaknya pengamatan (n) ganjil, median terletak
tepat ditengah gugus data, sedangkan bila n genap, median
diperoleh dengan cara interpolasi yaitu rata-rata dari dua data yang berada di
tengah gugus data. Dengan demikian, median membagi himpunan pengamatan menjadi
dua bagian yang sama besar, 50% dari pengamatan terletak di bawah median dan
50% lagi terletak di atas median. Median sering dilambangkan dengan
(dibaca
"x-tilde") apabila sumber datanya berasal dari sampel
(dibaca "μ-tilde") untuk median populasi. Median
tidak dipengaruhi oleh nilai-nilai aktual dari pengamatan melainkan pada posisi
mereka. Prosedur untuk menentukan nilai median, pertama urutkan data terlebih
dahulu, kemudian ikuti salah satu prosedur berikut ini:
·
Banyak data ganjil → mediannya adalah nilai yang berada tepat di tengah
gugus data
·
Banyak data genap → mediannya adalah rata-rata dari dua nilai data yang
berada di tengah gugus data
a. Median data tunggal:
Untuk menentukan median dari data
tunggal, terlebih dulu kita harus mengetahui letak/posisi median tersebut.
Posisi median dapat ditentukan dengan menggunakan formula berikut:
dimana n =
banyaknya data pengamatan.
Median apabila n ganjil:
Contoh 5:
Hitunglah median dari nilai ujian
matematika kelas 3 SMU berikut ini: 8; 4; 5; 6; 7; 6; 7; 7; 2; 9; 10
Jawab:
·
data: 8; 4; 5; 6; 7; 6; 7; 7; 2; 9; 10
·
setelah diurutkan: 2; 4; 5; 6; 6; 7; 7; 7; 8; 9; 10
·
banyaknya data (n) = 11
·
posisi Me = ½(11+1) = 6
·
jadi Median = 7 (data yang terletak pada urutan ke-6)
|
Nilai
Ujian
|
2
|
4
|
5
|
6
|
6
|
7
|
7
|
7
|
8
|
9
|
10
|
|
Urutan
data ke-
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
8
|
9
|
10
|
11
|
|
↑
|
Median apabila n genap:
Contoh 6:
Hitunglah median dari nilai ujian
matematika kelas 3 SMU berikut ini: 8; 4; 5; 6; 7; 6; 7; 7; 2; 9
Jawab:
·
data: 8; 4; 5; 6; 7; 6; 7; 7; 2; 9
·
setelah diurutkan: 2; 4; 5; 6; 6; 7; 7; 7; 8; 9
·
banyaknya data (n) = 10
·
posisi Me = ½(10+1) = 5.5
·
Data tengahnya: 6 dan 7
·
jadi Median = ½ (6+7) = 6.5 (rata-rata dari 2 data yang terletak pada
urutan ke-5 dan ke-6)
|
Nilai
Ujian
|
2
|
4
|
5
|
6
|
6
|
7
|
7
|
7
|
8
|
9
|
||||||||
|
Urutan
data ke-
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
8
|
9
|
10
|
||||||||
|
↑
|
||||||||||||||||||
b. Median dalam distribusi frekuensi:
Formula untuk menentukan median dari
tabel distribusi frekuensi adalah sebagai berikut:

b = batas bawah kelas median dari kelas
selang yang mengandung unsur atau memuat nilai median
p = panjang kelas median
n = ukuran sampel/banyak data
f = frekuensi kelas median
F = Jumlah semua frekuensi dengan tanda
kelas lebih kecil dari kelas median (∑fi)
Contoh 7:
Tentukan nilai median dari tabel
distribusi frekuensi pada Contoh 3 di atas!
Jawab:
|
Kelas ke-
|
Nilai
Ujian
|
fi
|
fkum
|
|
|
1
|
31 - 40
|
2
|
2
|
|
|
2
|
41 - 50
|
3
|
5
|
|
|
3
|
51 - 60
|
5
|
10
|
|
|
4
|
61 - 70
|
13
|
23
|
|
|
5
|
71 - 80
|
24
|
47
|
←letak
kelas median
|
|
6
|
81 - 90
|
21
|
68
|
|
|
7
|
91 - 100
|
12
|
80
|
|
|
8
|
Jumlah
|
80
|
·
Letak kelas median: Setengah dari seluruh data = 40, terletak pada kelas
ke-5 (nilai ujian 71-80)
·
b = 70.5, p = 10
·
n = 80, f = 24
·
f = 24 (frekuensi kelas median)
·
F = 2 + 3 + 5 + 13 = 23
(3) Mode
Mode adalah data
yang paling sering muncul/terjadi. Untuk menentukan modus, pertama susun data
dalam urutan meningkat atau sebaliknya, kemudian hitung frekuensinya. Nilai
yang frekuensinya paling besar (sering muncul) adalah modus. Modus digunakan
baik untuk tipe data numerik atau pun data kategoris. Modus tidak
dipengaruhi oleh nilai ekstrem. Beberapa kemungkinan tentang modus suatu
gugus data:
·
Apabila pada sekumpulan data terdapat dua mode, maka gugus data tersebut
dikatakan bimodal.
·
Apabila pada sekumpulan data terdapat lebih dari dua mode, maka gugus data
tersebut dikatakan multimodal.
·
Apabila pada sekumpulan data tidak terdapat mode, maka gugus data tersebut
dikatakan tidak mempunyai modus.
Meskipun suatu gugus data mungkin saja
tidak memiliki modus, namun pada suatu distribusi data kontinyu, modus dapat
ditentukan secara analitis.
·
Untuk gugus data yang distribusinya simetris, nilai mean, median dan modus
semuanya sama.
·
Untuk distribusi miring ke kiri (negatively skewed): mean < median <
modus
·
untuk distribusi miring ke kanan (positively skewed): terjadi hal yang
sebaliknya, yaitu mean > median > modus.

Hubungan antara ketiga ukuran tendensi
sentral untuk data yang tidak berdistribusi normal, namun hampir simetris dapat
didekati dengan menggunakan rumus empiris berikut:
Mean - Mode = 3 (Mean - Median)
a. Modus Data Tunggal:
Contoh 8:
Berapa modus dari nilai ujian matematika
kelas 3 SMU berikut ini:
·
2, 4, 5, 6, 6, 7, 7, 7, 8, 9
·
2, 4, 6, 6, 6, 7, 7, 7, 8, 9
·
2, 4, 6, 6, 6, 7, 8, 8, 8, 9
·
2, 4, 5, 5, 6, 7, 7, 8, 8, 9
·
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10
Jawab:
·
2, 4, 5, 6, 6, 7, 7, 7,
8, 9→ Nilai yang sering muncul adalah angka 7 (frekuensi terbanyak = 3),
sehingga Modus (M) = 7
·
2, 4, 6, 6, 6, 7, 7, 7,
8, 9 → Nilai yang sering muncul adalah angka 6 dan 7 (masing-masing muncul 3
kali), sehingga Modusnya ada dua, yaitu 6 dan 7. Gugus data tersebut dikatakan
bimodal karena mempunyai dua modus. Karena ke-2 mode tersebut nilainya
berurutan, mode sering dihitung dengan menghitung nilai rata-rata keduanya, ½
(6+7) = 6.5.
·
2, 4, 6, 6, 6,
7, 8, 8, 8,
9 → Nilai yang sering muncul adalah angka 6 dan 8 (masing-masing muncul 3
kali), sehingga Modusnya ada dua, yaitu 6 dan 8. Gugus data tersebut dikatakan
bimodal karena mempunyai dua modus. Nilai mode tunggal tidak dapat dihitung
karena ke-2 mode tersebut tidak berurutan.
·
2, 4, 5, 5,
6, 7, 7, 8, 8,
9 → Nilai yang sering muncul adalah angka 5, 6 dan 7 (masing-masing muncul 2
kali), sehingga Modusnya ada tiga, yaitu 5, 6 dan 7. Gugus data tersebut
dikatakan multimodal karena modusnya lebih dari dua.
·
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10 → Pada gugus data tersebut, semua frekuensi
data sama, masing-masing muncul satu kali, sehingga gugus data tersebut
dikatakan tidak mempunyai modusnya
b. Mode dalam Distribusi Frekuensi:
dimana:
Mo = modal = kelas yang memuat modus
b = batas bawah kelas modal
p = panjang kelas modal
bmo = frekuensi dari kelas yang memuat modus (yang nilainya
tertinggi)
b1= bmo – bmo-1 = frekuensi kelas modal –
frekuensi kelas sebelumnya
b2 = bmo – bmo+1 = frekuensi kelas modal –
frekuensi kelas sesudahnya
Contoh 9:
Tentukan nilai median dari tabel
distribusi frekuensi pada Contoh 3 di atas!
Jawab:
|
Kelas ke-
|
Nilai
Ujian
|
fi
|
|
|
1
|
31 - 40
|
2
|
|
|
2
|
41 - 50
|
3
|
|
|
3
|
51 - 60
|
5
|
|
|
4
|
61 - 70
|
13
|
|
|
→ b1 = (24
– 13) = 11
|
|||
|
5
|
71 - 80
|
24
|
← kelas
modal (frekuensinya paling besar)
|
|
→ b2 =(24
– 21) =3
|
|||
|
6
|
81 - 90
|
21
|
|
|
7
|
91 - 100
|
12
|
|
|
8
|
Jumlah
|
80
|
·
Kelas modul =kelas ke-5
·
b = 71-0.5 = 70.5
·
b1 = 24 -13 = 11
·
b2 = 24 – 21 = 3
·
p = 10
Selain tiga ukuran tendensi sentral di
atas (mean, median, dan mode), terdapat ukuran tendensi sentral lainnya, yaitu
rata-rata ukur (Geometric Mean) dan rata-rata harmonis (Harmonic Mean)
(4) Rata-rata Ukur (Geometric Mean)
Untuk gugus data positif x1, x2,
…, xn, rata-rata geometrik adalah akar ke-n dari hasil perkalian
unsur-unsur datanya. Secara matematis dapat dinyatakan dengan formula berikut:
Dimana: U =
rata-rata ukur (rata-rata geometrik) n = banyaknya sampel Π = Huruf kapital π
(pi) yang menyatakan jumlah dari hasil kali unsur-unsur data. Rata-rata
geometrik sering digunakan dalam bisnis dan ekonomi untuk menghitung rata-rata
tingkat perubahan, rata-rata tingkat pertumbuhan, atau rasio rata-rata untuk
data berurutan tetap atau hampir tetap atau untuk rata-rata kenaikan dalam
bentuk persentase.
a. Rata-rata ukur untuk data tunggal
Contoh 10:
Berapakah rata-rata ukur dari data 2, 4,
8?
Jawab:
atau:
b. Distribusi Frekuensi:
xi = tanda kelas (nilai tengah)
fi = frekuensi yang sesuai dengan xi
Contoh 11:
Tentukan rata-rata ukur dari tabel
distribusi frekuensi pada Contoh 3 di atas!
Jawab
|
Kelas ke-
|
Nilai Ujian
|
fi
|
xi
|
log xi
|
fi.log xi
|
|
1
|
31 - 40
|
2
|
35.5
|
1.5502
|
3.1005
|
|
2
|
41 - 50
|
3
|
45.5
|
1.6580
|
4.9740
|
|
3
|
51 - 60
|
5
|
55.5
|
1.7443
|
8.7215
|
|
4
|
61 - 70
|
13
|
65.5
|
1.8162
|
23.6111
|
|
5
|
71 - 80
|
24
|
75.5
|
1.8779
|
45.0707
|
|
6
|
81 - 90
|
21
|
85.5
|
1.9320
|
40.5713
|
|
7
|
91 - 100
|
12
|
95.5
|
1.9800
|
23.7600
|
|
8
|
Jumlah
|
80
|
149.8091
|
(5) Rata-rata Harmonik (H)
Rata-rata harmonik dari suatu kumpulan
data x1,
x2, …, xn adalah kebalikan dari nilai rata-rata
hitung (aritmetik mean). Secara matematis dapat dinyatakan dengan formula
berikut:

Secara umum,
rata-rata harmonic jarang digunakan. Rata-rata ini hanya digunakan untuk data
yang bersifat khusus. Misalnya,rata-rata harmonik sering digunakan sebagai
ukuran tendensi sentral untuk kumpulan data yang menunjukkan adanya laju
perubahan, seperti kecepatan.
a. Rata-rata harmonic untuk data tunggal
Contoh 12:
Si A bepergian pulang pergi. Waktu pergi
ia mengendarai kendaraan dengan kecepatan 10 km/jam, sedangkan waktu kembalinya
20 km/jam. Berapakah rata-rata kecepatan pulang pergi?
Jawab:
Apabila kita menghitungnya dengan
menggunakan rumus jarak dan kecepatan, tentu hasilnya 13.5 km/jam! Apabila kita
gunakan perhitungan rata-rata hitung, hasilnya tidak tepat!
Pada kasus ini, lebih tepat menggunakan
rata-rata harmonik:

b. Rata-rata Harmonik untuk Distribusi
Frekuensi:

Contoh 13:
Berapa rata-rata Harmonik dari tabel
distribusi frekuensi pada Contoh 3 di atas!
Jawab:
|
Kelas ke-
|
Nilai
Ujian
|
fi
|
xi
|
fi/xi
|
|
1
|
31 - 40
|
2
|
35.5
|
0.0563
|
|
2
|
41 - 50
|
3
|
45.5
|
0.0659
|
|
3
|
51 - 60
|
5
|
55.5
|
0.0901
|
|
4
|
61 - 70
|
13
|
65.5
|
0.1985
|
|
5
|
71 - 80
|
24
|
75.5
|
0.3179
|
|
6
|
81 - 90
|
21
|
85.5
|
0.2456
|
|
7
|
91 - 100
|
12
|
95.5
|
0.1257
|
|
8
|
Jumlah
|
80
|
1.1000
|

Perbandingan Ketiga Rata-rata (Mean):
Karakteristik penting untuk ukuran
tendensi sentral yang baik
Ukuran nilai pusat/tendensi sentral (average) merupakan
nilai pewakil dari suatu distribusi data, sehingga harus memiliki sifat-sifat
berikut:
·
Harus mempertimbangkan semua gugus data
·
Tidak boleh terpengaruh oleh nilai-nilai ekstrim.
·
Harus stabil dari sampel ke sampel.
·
Harus mampu digunakan untuk analisis statistik lebih lanjut.
Dari beberapa
ukuran nilai pusat, Mean hampir memenuhi semua persyaratan tersebut, kecuali
syarat pada point kedua, rata-rata dipengaruhi oleh nilai ekstrem. Sebagai
contoh, jika item adalah 2; 4; 5; 6; 6; 6; 7; 7; 8; 9 maka mean, median dan
modus semua bernilai sama, yaitu 6. Jika nilai terakhir adalah 90 bukan 9,
rata-rata akan menjadi 14.10, sedangkan median dan modus tidak berubah.
Meskipun dalam hal ini median dan modus lebih baik, namun tidak memenuhi
persyaratan lainnya. Oleh karena itu Mean merupakan ukuran nilai pusat yang
terbaik dan sering digunakan dalam analisis statistik.
Kapan kita menggunakan nilai tendensi
sentral yang berbeda?
Nilai ukuran
pusat yang tepat untuk digunakan tergantung pada sifat data, sifat distribusi frekuensi
dan tujuan. Jika data bersifat kualitatif, hanya modus yang dapat digunakan.
Sebagai contoh, apabila kita tertarik untuk mengetahui jenis tanah yang khas di
suatu lokasi, atau pola tanam di suatu daerah, kita hanya dapat menggunakan
modus. Di sisi lain, jika data bersifat kuantitatif, kita dapat menggunakan
salah satu dari ukuran nilai pusat tersebut, mean atau median atau modus.
Meskipun pada jenis data kuantitatif kita dapat menggunakan ketiga ukuran
tendensi sentral, namun kita harus mempertimbangkan sifat distribusi frekuensi
dari gugus data tersebut.
·
Bila distribusi frekuensi data tidak normal (tidak simetris), median ataumodus merupakan
ukuran pusat yang tepat.
·
Apabila terdapat nilai-nilai ekstrim,
baik kecil atau besar, lebih tepat menggunakan median atau modus.
·
Apabila distribusi data normal (simetris),
semua ukuran nilai pusat, baikmean, median, atau modus dapat digunakan.
Namun, mean lebih sering digunakan dibanding yang lainnya
karena lebih memenuhi persyaratanuntuk ukuran pusat yang baik.
·
Ketika kita berhadapan dengan laju,
kecepatan dan harga lebih tepat menggunakan rata-rata harmonik.
·
Jika kita tertarik pada perubahan relatif,
seperti dalam kasus pertumbuhan bakteri, pembelahan sel dan sebagainya, rata-rata
geometrik adalah rata-rata yang paling tepat.
Referensi:
·
Mario Triola. 2004. Elementary Statistics. 9th Edition. Pearson Education.
·
Stephen Bernstein and Ruth Bernstein. 1999. Elements of Statistics I:
Descriptive Statistics and Probability. The McGraw-Hill Companies, Inc
·
Web:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar